jump to navigation

GUNUNGKIDUL

The Regency of Gunungkidul has hilly topographic condition, half of its region has slope area of more than 15%, on its northern zone (Baturagung Mountain Range) and in the west, south, and east zones (Seribu Mountain Range). Only the middle zone is relatively plain and called Wonosari Plateau, consisting of the sub-districts Wonosari, Playen, Semanu, Karangmojo and part of Paliyan.

Gunungkidul Regency

Gunungkidul Regency

Kabupaten Gunungkidul mempunyai kondisi topografis berbukit-bukit, lebih dari separoh daerahnya mempunyai kemiringan diatas 15% terutama pada Zona utara (pegunungan Batur agung) dan daerah disebelah barat, bagian perbukitan selatan serta daerah timur yang merupakan rangkaian perbukitan ” gunung seribu”. Hanya zona tengah yang sedikit relatif berupa dataran yang dikenal dengan dataran tinggi Wonosari (Wonosari Palteau), yang termasuk dataran ini ada bebrapa kecamatan (total ada 5 dari 18 kecamatan yang ada) yaitu erdiri dari kecamatan Wonosari, Playen, Semanu, Karangmojo dan sebagian dari Paliyan.

• The elevation of this region is varied from 0 m above sealevel in the shore, 100 – 400 m above the sea level in the karst region of Seribu Mountain range, 100 – 200 m above sea level in the Ledok Wonosari zone and 400 – 800 m above sealevel in the Baturagung Mountain range.

Tingkat kemiringan dari daerah adalah yang bervariasi ini dari 0 seribu di atas sealevel di dalam pantai, 100 -400 seribu di atas permukaan laut di dalam daerah kars cakupan Seribu Mountain, 100 -200 seribu di atas permukaan laut di dalam Ledok Wonosari zone dan 400 -800 seribu di atas sealevel di dalam cakupan Baturagung Mountain.

The geological condition of Gunungkidul Regency is influenced by the existence of the karst of Seribu Mountain Range. Approximately 74% of the region is of Kepek formation of limestone. On the west part that borders Bantul, there are folded zones (zona patahan) that also become physical hindrance to access to Gunungkidul Regency. On the north zone (Baturagung Mountain Range), there are geological formations of andesite (Gunungwungkal, Wuni, Semilir, Nglangran and Mandalika).

Kondisi geologi kabupaten Gunungkidul dipengaruhi oleh keberadaan dari kars dari pegunungan seribu. Kira-kira 74% dari daerah yang berasal dari pembentukan batu gamping. Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Bantul, ada zona lipatan  dan zona patahan) yang juga secara fisik merupakan rintangan terhadap akses ke Kabupaten Gunungkidul. Di zone yang utara (sepanjang pegunungan Baturagung Mountain), secara geologi merupakan rangkaian pembentukan pegunungan andesit (Gunungwungkal, Wuni, Semilir, Nglangran dan Mandalika).

Formasi Pegunungan Nglanggeran

Formasi Pegunungan Nglanggeran

• The physiography of this region consists of Seribu Mountain Range, Ledok Wonosari (Wonosari Plateau), Oyo Valley, Baturagung Mountain Range and Panggung Masif. The type of soil is Mediterania found in Seribu Mountain Range, Grumusol in the Ledok Wonosari (Wonosari Plateau) and Panggung Masif, Latosol dan Rendsina in the Baturagung and Oyo Valley.

Secara fisik daerah ini terdiri dari Rangkaian pegunungan seribu,  Ledok Wonosari (Wonosari Plateau), Lembah sungai Oya dari pegunngan Baturagung

• The ecologically conserved area includes Seribu Mountain Range (as natural conservation area). The conservation of forests covers the area that borders Bantul Regency, Baturagung zone bordering with Klaten Regency and Panggung Masif Zone bordering Wonogiri Regency; riverbank areas, particularly Oyo River and the coastal line; as well as the area seriously impacted by natural disasters (erosion, landslide and drought).

• The karst area in Gunungkidul probably is the most comp

Lembah Sungai Oya (Wanagama Forest)

licated one in Indonesia. This area is full of ecological functions such as the protection of various kinds of insects, reptiles (snakes), birds (swallow and bats). It is rich with natural beautiful horizontal or vertical caves, an underground river and white-sand shores.

Lembah Sungai Oya (Wanagama Forest)

• The agriculture area in the Wonosari Plateau Zone. Within this zone, there is also an important forest used for research called Wanagama developed by the Faculty of Forestry Gadjah Mada University since 1960.

Iklan

Komentar»

1. Septia Wati - Agustus 29, 2014

Bagus tuh bisa buat bljar ..

arisumarsono - Agustus 30, 2014

bila ke gunungkidul silahkan menikmati secara langsung … pasti lebih manteb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: